Acara pelantikan dan rapat kerja ini dibuka oleh Ketua Asosiasi Prodi Mazawa Mustofa dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam sambutannya ia mengatakan “kami sangat mendukung dan mengapresiasi yang dilakukan oleh Fornas Mazawa. Dari forum ini ke depan akan lahir calon-calon amil dan nadzir yang profesional dan kompeten. Kami akan mengawal terus mahasiswa Mazawa melalui forum ini untuk mengelola potensi zakat dan wakaf yang sangat besar ini”. Tutur dosen berpawakan tinggi tersebut.
Selain agenda pelantikan dan rapat kerja, Fornas Mazawa juga menggelar Simposium Nasional bertajuk “Optimalisasi Harta Zakat dan Wakaf Untuk Ketahanan Pangan Nasional”. Tema ini diambil sebagai respon dunia kampus terhadap persoalan-persoalan yang tengah terjadi di masyarakat. Ketahanan pangan menjadi isu hangat yang sedang gencar dibahas oleh berbagai kalangan. Melambungnya harga kebutuhan pokok seperti beras dan sayur-mayur menjadi bahan kajian yang perlu dicarikan solusi.
Dalam simposium tersebut menghadirkan para pakar yang ahli di bidangnya. Dari Kementerian Agama RI hadir Kasubdit Edukasi, Inovasi dan Kerja sama Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Dr. Muhibuddin, dari Baznas RI hadir sebagai diwakili Abdul Aziz Yahya Saoqie, sedangkan dari pihak Dinas Ketahanan Pangan Tulungagung diwakili Moh. Jaber dan dari pihak tuan rumah diwakili oleh Koordinator Prodi Manajemen Zakat dan Wakaf Dr. Ahmad Supriyadi, M.Pd.I.
Dalam pemaparan materi, semua narasumber sepakat bahwa zakat dan wakaf harus diperkuat untuk ketahanan pangan nasional. Ekosistem zakat yang semakin tumbuh baik harus diarahkan selain untuk penanganan kemiskinan juga diarahkan untuk ketahanan pangan nasional. Dengan potensi sekitar 400 triliun, zakat dapat diarahkan untuk membantu petani dan memperkuat industri UMKM. Hasil inilah yang menjadi seruan Fornas Mazawa kepada pemangku kepentingan untuk memperkuat gerakan zakat untuk penanganan kemiskinan dan ketahanan pangan nasional.



